Pages

Selasa, 18 Oktober 2011

Masjid Raya Surau Gadang Jadi Benteng Pertahanan ketika Diserang Belanda


Beberapa tahun menjelang kemerdekaan, serangan Belanda terhadap penduduk pribumi semakin gencar, tak terkecuali di Padang. Kawasan Surau Gadang Kecamatan Nanggalo Padang tak luput dari gempuran tentara Belanda.

Menurut Desmiwati, 46, warga Surau Gadang, berdasarkan cerita almarhum orangtuanya, serangan Belanda juga bertubi-tubi kepada masyarakat di kawasan Surau Gadang Kecamatan Nanggalo.

Sehingga untuk menyelamatkan diri mereka mengungsi ke Masjid Raya Nanggalo, Surau Gadang. Nama yang kini tertera di plang besar depan masjid, di Jalan Jamil-Jamal, Kelurahan Surau Gadang, Kecamatan Nanggalo.

Dulu katanya, nama yang digunakan untuk masjid itu adalah Surau Gadang saja. Tetapi dalam perkembangannya Masjid Surau Gadang kini berubah menjadi Masjid Raya Nanggalo, Surau Gadang. Tetapi masyarakat dengan senang hati masih menyebut nama Surau Gadang untuk masjid tersebut.

Masjid yang dulu dikenal sebagai pusat kegiatan masyarakat di kawasan Nanggalo itu sudah dibangun sejak tahun 1911. Dari kampung Berok, Pagang, Kurao, dan Gurun Laweh warga berbondong-bondong menuju masjid itu untuk melaksanakan shalat. “Karena dulu, satu-satunya masjid di Nanggalo memang adanya di sini,” terangnya.

Pertama kali dibangun masjid itu memadukan arsitektur Arab dan Minangkabau. Maklum, saat itu pedagang Arab sangat ramai di Padang. Begitu pula cendikiawan Minang banyak menuntut ilmu di negeri Arab, sehingga corak Arab begitu kental di masyarakat.

Pembangunan masjid itu, kata Desmiwati, dilakukan menggunakan sistem pasak. Artinya kayu tidak dipaku melainkan terhubung dengan dipasak antara yang satu dengan yang lainnya. Material bangunan masjid yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat kaum Jambak itu menggunakan bahan-bahan pilihan. Seperti dari batu pilihan, kapur, pasir dan kayu ulin keras.

Dindingnya dibuat tebal, sekitar 25 cm sehingga mampu bertahan dari gonjangan gempa. Pintu-pintu terbuat dari kayu ulin tebal yang tahan lama. Ketika Belanda membombardir Kota Padang, masyarakat sekitar memilih menyelamatkan diri di masjid itu. Ketebalan dinding mampu membendung berondongan senjata Belanda. Sehingga fungsi masjid itu tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai benteng pertahanan ketika diserang lawan.

Selain digunakan tetua kampung sebagai benteng perlawanan terhadap Belanda, masjid berukuran panjang 25 meter itu menjadi saksi setiap kejadian penting di daerah tersebut. Ritual adat, seperti masalah pernikahan dibicarakan di dalam masjid. Rapat adat maupun rapat nagari juga dilakukan di masjid itu, sehingga pantas masjid yang berdiri di pinggir aliran Batang Kuranji disebut pusat aktivitas warga setempat.

“Ketika kanak-kanak, saya masih menemukan bentuk masjid yang asli itu. Tetapi sejak tahun 1989, bentuk yang asli itu sudah dirobohkan pengurus masjid waktu itu dan diganti dengan yang baru,” katanya. Alasannya karena banyak bagian yang sudah rusak dan masjid tidak cukup menampung jumlah jamaah yang kian banyak, sehingga direnovasi menjadi dua lantai.

“Yang kami sayangkan bentuk aslinya menjadi hilang, hingga tidak ada lagi nilai sejarahnya,” ucapnya. Kini, cobalah berkunjung ke masjid tersebut. Tak ada tanda, atau bekas bangunan yang menandakan masjid itu pernah didaulat sebagai benteng terakhir masyarakat Nanggalo menghadapi serangan Belanda. Masjid itu dirubah mengikuti gaya modern sekarang, meski pembangunannya belum juga selesai.

Kebanyakan masyarakat sekitar, apalagi generasi muda sama sekali tidak tahu sejarahnya. Seperti penuturan Sondy, 26, yang dia ketahui hanyalah pernah berdiri sebuah masjid tua sebelum masjid baru tersebut dibangun. Selebihnya dia tak tahu.

Di dalamnya, ornamen masjid kental dengan nuansa modern. Lantai dan dinding ditutupi marmer baru. Tidak ada tanda-tanda bekas bangunan tua pernah berdiri di sana. Semuanya bersih, tanpa ada peralatan lama, atau foto tua masjid. Orangtua yang tahu betul sejarah masjid tersebut pun sudah tidak ada lagi.(relis by YA. Kari Mudo)

Selasa, 11 Oktober 2011

BERGURU KEPADA HEWAN

oleh: Yasri Azmi, S. Th.I

Al-Qur’an melalui kisah-kisah para Nabi dan orang-orang sholeh terdahulu mengetengahkan kepada kita sejumlah binatang yang memainkan peranan penting dalam sejarah. Banyak ‘ibrah dan i’tibar yang patut kita renungi untuk menghisab diri, karena sesungguhnya kita manusia jauh lebih mulia dari pada hewan. Kemudian yang diharapkan dengan kisah-kisah tersebut adalah supaya kita dapat memahami ma’lumat agama yang mulia ini melalui hikmah.
Burung gagak yang diutus Allah swt. kepada Putra Nabi Adam a.s untuk memperlihatkan kepadanya bagaimana mengubur jenazah.
Burung Merpati yang disembelih Ibrahim a.s dan dipotong-potong lalu masing-masing diletakkan di puncak-puncak gunung, kemudian Allah bangkitkan dari kematian untuk menunjukkan kekuasaan Allah Sang Maha Pencipta.  
Serigala yang tertuduh secara zholim telah membunuh Nabi Yusuf a.s. Merupakan sebuah sinyal bahwa watak manusia memang hobbi mengkambing hitamkan sesuatu yang menurut mereka perlu dicurigai. 
Ikan Paus yang menelan Nabi Yunus a.s ke dalam perutnya selama sekian lama, lalu melemparkannya lagi kedaratan memberi dua isyarat. Pertama karena ia Yunus termasuk orang-orang yang sholeh ; kedua Allah swt. tidak menginginkan seorang utusannya untuk lari dari kenyataan.
Rayap yang memberi berita tentang kewafatan Nabi Sulaiman ; dengan memakan tongkatnya ; sehingga ia tersungkur ke lantai. Betapa mencengangkan hanya seekor rayap mampu menunjukkan ilmunya terhadap manusia dihadapan Rajanya yang agung.
Sapi betina yang dijadikan kurban demi sebuah kebohongan yang dilakukan seorang Bani Israel.
Anjing si penjaga gua yang tertidur bersama Ashhab al-kahfi selama 309 tahun. Menggambarkan betapa menakjubkan bahwa hanya seekor anjing cukup punya kemauan keras untuk mengikuti jejak orang-orang sholeh.
Gajah Abrahan yang terserang rasa takut kepada Allah tatkala ditugaskan menghancurkan Ka’bah. Begitu mengisyaratkan bahwa betapapun besarnya kekuatan namun sekali-kali tidak akan mampu menandingi keperkasaan Allah swt.
Sejumlah binatang lainnya disebutkan dalam Al-qur’an sebagai mu’jizat seperti burung Ababil, Ular dari tongkat Nabi Musa, dan sebagainya. Dan ada juga yang diceritakan dalam hadits-hadits shoheh seperti laba-laba yang merajut sarangnya pada pintu gua tempat persembunyaian Nabi Muhammad saw.
Fa’tabiruu..
                                            Padang, 6 November 2007

DAMAI DI RANAH MINANG

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More